Gagal Bayar, Saham Bakrie Sumatera Dihentikan Sementara

Gagal Bayar, Saham Bakrie Sumatera Dihentikan Sementara Source Picture : PT Bakrie Sumatra Plantation (sumber: Istimewa)

 

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberhentikan sementara (suspen) perdagangan saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mulai perdagangan sesi satu hari ini.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Grup I BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, suspensi dilakukan karena perseroan mengalami gagal bayar (default) atas pembayaran bunga dari Secured Equity-linked redeemable notes US$ 100 juta dengan tingkat bunga 8 persen.

“Bursa menghentikan perdagangan saham perseroan juga karena belum adanya informasi lebih lanjut dari perseroan terkait hal tersebut,” kata I Gede dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (19/9).

Dia mengatakan, suspen juga dilakukan dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien.

BEI meminta kepada para pemangku kepentingan untuk memperhatikan keterbukaan yang diinformasikan perseroan terkait pemenuhan pembayaran bunga tersebut.

Diketahui, pada 2011, Bakrie Sumatera pernah melakukan perubahan masa berlaku surat utang US$ 100 juta dari tahun 2013 menjadi 2017. Sebelum diperpanjang, surat utang ini akan jatuh tempo pada 1 Maret 2013. Pembayaran bunga surat utang akan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 1 Maret dan 1 September setiap tahunnya.

Bakrie Sumatera berusaha memperbaiki struktur keuangannya pada tahun ini. Salah satunya dengan pelunasan utang melalui aksi penjualan saham anak usaha.

Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Plantation Balakhrisnan Chandrasekaran pernah mengatakan, perseroan akan melakukan penjualan aset Agri International secara bertahap. Saat ini, Agri International membawahahi enam anak perusahaan, antara lain, PT Multrada Multi Maju, PT Padang Bolak Jaya, PT Perjapin Prima, PT Jambi Agrowijaya, PT Eramitra Agrolestari, dan PT Trimitra Sumberperkasa.

Pada kuartal I-2014, perseroan pun telah menerima uang muka penjualan Agri Internasional senilai US$ 37,08 juta. Dalam laporan itu perseroan mengatakan penjualan diharapkan tuntas pada tahun 2014. Langkah tersebut merupakan bagian dari usaha perseroan menggalang dana senilai Rp 2 triliun untuk membayar utang pada tahun ini.

Pada September 2013, Bakrie Sumatera pernah menjual 100 persen saham anak usahanya, yakni PT Guntung Idamanusa kepada PT Berkat Sawit Sejati dan PT mitra Sistra senilai US$ 41,49 juta.

Selain menjual aset Agri International, perseroan juga tengah mengkaji tiga opsi pelepasan anak usaha Domba Mas. Opsi tersebut antara lain, menggenjot struktur permodalam Domba Mas dengan pencarian mitra strategis, penjualan aset perusahaan, serta mengkonversi saham perseroan menjadi ekuitas.

Sampai saat ini, Bakrie Sumatera belum mempublikasikan laporan keuangan semester I-2014. Manajeman perseroan berencana menyampaikan laporan keuangan konsolidasi perseroan selambat-lambatnya tanggal 30 September 2014.

Hingga Maret 2014, total liabilitasnya perseroan mencapai Rp 12,59 triliun. Sedangkan, ekuitasnya sebesar Rp 5,27 triliun. Sehingga, rasio utang terhadap modal atau Debt to Equity Ratio(DER) emiten ini 2,38 kali. Adapun utang jatuh tempo perseroan pada tahun ini sebesar Rp 3,6 triliun

Saat ini, salah satu pemegang saham Bakrie Sumatera adalah PT Bakrie & Brothers Tbk sekitar 0,02 persen. Jumlah pemegang saham perseroan mencapai 13,72 miliar pihak. Di sini, pemegang saham publik perseroan memegang porsi sangat besar yaitu 82,5 persen.

Sumber : Berita Satu

Rudy Sugiyono

About the Author

Rudy Sugiyono

Shortlink : http://bandarlampungku.com/l4r056.bdl

Comments

    • Belum ada komentar pada artikel ini...